![]() |
| Ilustrasi dosen yang sedang merevisi artikel jurnalnya |
1. Editor Tahu, Reviewer Tidak
Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa double-blind bukan berarti semua pihak dalam jurnal tidak mengetahui identitas penulis. Editor tetap mengetahui siapa yang mengirimkan artikel. Editor membutuhkan informasi tersebut untuk mengelola submission, memilih reviewer yang sesuai, memeriksa kemungkinan konflik kepentingan, serta mengambil keputusan editorial. Yang disembunyikan adalah identitas penulis dari reviewer dan identitas reviewer dari penulis. Jadi, kalau prosesnya dibayangkan seperti sebuah jembatan, editor berada di tengah-tengahnya. The editor knows who you are, but the reviewer doesn't. Inilah alasan mengapa istilah double-blind sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai hubungan anonim antara author dan reviewer, bukan antara author dengan seluruh pihak jurnal.
2. Manuscript Harus Benar-Benar Anonim
Masalahnya, banyak penulis mengira bahwa double-blind selesai hanya dengan menghapus nama pada halaman pertama. Padahal, proses anonymization jauh lebih luas. Nama penulis, afiliasi, email, acknowledgements, funding information tertentu, serta informasi lain yang dapat mengungkap identitas perlu diperiksa. Springer Nature, misalnya, meminta agar “authors' names, affiliations, email addresses” tidak dicantumkan dalam manuscript yang dikirim untuk proses double-anonymous review. Bahkan figures, tables, supplementary files, dan informasi lain juga perlu diperhatikan. Jadi jangan sampai halaman pertama sudah anonim, tetapi pada sebuah gambar masih terdapat logo universitas, pada supplementary file masih ada nama penulis, atau di bagian acknowledgements tertulis institusi tempat penulis bekerja. One tiny clue can reveal a bigger identity.
3. Self-Citation dan Jejak Penulis
Bagian yang cukup menarik adalah self-citation. Mengutip penelitian sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Justru jika penelitian sebelumnya memang relevan, citation tersebut tetap penting. Namun, cara penulisannya dapat memberikan petunjuk mengenai identitas. Misalnya kalimat “In our previous study, we found that...” secara langsung memberi sinyal kepada reviewer bahwa penelitian yang dikutip kemungkinan berasal dari penulis yang sama. Karena itu, beberapa pedoman double-anonymous review menyarankan agar penulis menggunakan bentuk orang ketiga ketika merujuk pada penelitian sebelumnya. Elsevier memberikan contoh penggunaan nama penulis dalam bentuk seperti “Black and Hart (2015) have demonstrated...” daripada menggunakan “we previously demonstrated.” (elsevier.com) Jadi, self-citation is okay, but accidental self-identification is what authors need to watch.
4. Metadata, Nama File, dan Hal-Hal Kecil yang Sering Dilupakan
Ada satu hal lagi yang sering dianggap remeh: metadata dokumen. Kita bisa saja sudah menghapus nama dari manuscript, tetapi nama tersebut masih tersimpan di document properties Microsoft Word atau PDF. Nama file juga dapat menjadi petunjuk. Mengirim file bernama Rian_Politeknik_Negeri_Ambon_Final.docx tentu memberikan informasi lebih banyak dibandingkan Manuscript_Revision.docx. Elsevier secara khusus mengingatkan penulis untuk memperhatikan file properties dan informasi yang tersimpan di dalam dokumen ketika menyiapkan manuscript untuk double-anonymized review. (elsevier.com) Springer Nature juga menempatkan metadata sebagai bagian yang perlu diperiksa. (springernature.com) Sometimes, the smallest digital footprint can give away a big clue.
Meski demikian, double-blind review tidak berarti reviewer benar-benar mustahil mengetahui siapa penulisnya. Reviewer mungkin saja mengenali penulis berdasarkan topik penelitian yang sangat spesifik, pola referensi, gaya penulisan, lokasi penelitian, metodologi tertentu, atau publikasi sebelumnya. Elsevier sendiri mengakui bahwa “it is exceedingly difficult to guarantee total author anonymity.” (elsevier.com) Springer Nature juga menjelaskan bahwa artikel yang sebelumnya tersedia sebagai preprint dapat membuat identitas penulis lebih mudah ditemukan secara online. Jadi, double-blind bukanlah sebuah perfect invisibility cloak. Sistem ini lebih tepat dipahami sebagai upaya untuk membuat identitas penulis tidak langsung terlihat dan mengurangi kemungkinan bias dalam proses penilaian.
Hal yang juga sering menjadi pertanyaan adalah apakah nama universitas atau lokasi penelitian harus dihapus. Jawabannya tidak selalu sederhana. Jika lokasi penelitian merupakan bagian penting dari konteks ilmiah, informasi tersebut bisa saja tetap diperlukan. Misalnya, penelitian mengenai pendidikan di wilayah kepulauan tentu membutuhkan konteks geografis tertentu agar pembaca memahami karakteristik objek penelitian. Namun, jika penyebutan institusi secara langsung membuat identitas penulis sangat mudah ditebak, maka penulis perlu melihat kembali Author Guidelines jurnal yang dituju. The goal is not to hide the science; the goal is to hide the author's identity.
Pada akhirnya, reviewer bukanlah satu-satunya pihak yang menentukan nasib sebuah artikel. Reviewer memberikan komentar, kritik, dan rekomendasi berdasarkan hasil pembacaannya, sedangkan keputusan editorial tetap berada pada editor. Karena itu, ketika reviewer memberikan rekomendasi seperti minor revision atau major revision, hal tersebut bukan berarti reviewer secara otomatis memutuskan bahwa artikel harus diterima atau ditolak. Editor mempertimbangkan laporan reviewer, kualitas manuscript, dan kebijakan jurnal sebelum mengambil keputusan. Peer review is more like a scholarly conversation than a simple yes-or-no judgment.
Kalau dibandingkan dengan sistem lain, single-blind review memiliki mekanisme berbeda. Dalam sistem tersebut, reviewer mengetahui identitas penulis, tetapi penulis tidak mengetahui identitas reviewer. Sementara pada double-blind review, identitas keduanya disembunyikan satu sama lain. Ada pula open review, di mana identitas reviewer dan penulis dapat diketahui, tergantung kebijakan jurnal. Elsevier menjelaskan beberapa model peer review tersebut sebagai bagian dari variasi proses penelaahan ilmiah. (elsevier.com) Jadi, tidak semua jurnal menggunakan sistem yang sama. Different journals may choose different models for different reasons.
Bagi penulis yang akan mengirim artikel ke jurnal dengan sistem double-blind, ada baiknya melakukan pemeriksaan terakhir sebelum menekan tombol Submit. Pastikan nama penulis dan afiliasi tidak muncul pada manuscript utama, cek acknowledgements, funding information, figures, tables, supplementary files, nama file, serta metadata dokumen. Perhatikan juga penggunaan kalimat seperti “our previous study” yang mungkin secara tidak sengaja membuka identitas. Beberapa penerbit bahkan menyarankan penggunaan fitur seperti Document Inspector pada Microsoft Office untuk membantu menemukan informasi pribadi yang masih tersimpan dalam dokumen. A few minutes of checking can prevent an unnecessary problem later.
Namun, seperti sistem akademik lainnya, double-blind review bukanlah sistem yang sempurna. Anonimitas dapat menjadi sulit dipertahankan apabila penelitian sangat spesifik, penulis telah banyak menerbitkan penelitian pada topik yang sama, atau artikel sebelumnya telah tersedia secara online. Karena itu, tujuan utama double-blind bukan menjamin bahwa reviewer sama sekali tidak mungkin menebak identitas penulis, melainkan menciptakan kondisi di mana identitas tersebut tidak menjadi faktor yang mudah memengaruhi penilaian. Dengan kata lain, the system reduces the visibility of identity, not the visibility of scientific quality.
Pada akhirnya, double-blind review bukan sekadar persoalan menghapus nama dari halaman pertama sebuah artikel. Ia merupakan bagian dari upaya menjaga proses peer review agar lebih berfokus pada penelitian daripada reputasi orang yang menulisnya. Penulis tetap bertanggung jawab terhadap kualitas data, metodologi, analisis, dan argumentasi; reviewer bertanggung jawab memberikan evaluasi yang konstruktif; sementara editor bertanggung jawab menjaga proses editorial tetap berjalan sesuai kebijakan jurnal. Ketika nama penulis tidak menjadi pusat perhatian, manuscript mendapatkan kesempatan untuk berbicara melalui gagasan dan bukti yang dibawanya. Your name may be hidden, but the quality of your research should never be. Dan mungkin, di situlah makna paling sederhana dari double-blind review: biarkan karya ilmiah berbicara lebih dulu, sebelum siapa yang menulisnya menjadi perhatian.

No comments:
Post a Comment
Give your positive comments.
Avoid offensive comments.
Thank you.