Thursday, December 1, 2022

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN

 


Image by: https://mbaroi.in/blog/new-education-policy/

A. Implikasi dan Tahapan Implementasi

Implikasi kebijakan pendidikan telah banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Banyak implikasi dari berbagai kebijakan pendidikan yang telah dirasakan baik oleh pendidik secara umum, maupun oleh peserta didik pada khususnya. Ini bisa diartikan bahwa setiap kali pendidikan harus menjadi perhatian bagi Indonesia, dalam hal ini dari pihak pemerintah, termasuk dalam pengambilan keputusan dan kebijakan untuk ruang lingkup pendidikan. Menurut Rusdiana (2015), implikasi kebijakan pendidikan mengacu pada segala dampak dan akhibat yang muncul dari segala kebijakan yang dibuat, khususnya pada sistem pendidikan yang dirasakan oleh public yang menjadi pengguna kebijakan itu sendiri. 

Implikasi kebijakan pendidikan juga dirasakan saat pemerintah melalui Kementerian Pendidikan merevisi beberapa kebijakan kurikulum; Kurikulum 2013 adalah contohnya. Perubahan kurikulum memang memainkan peran utama dalam meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan di negara manapun. Secara internasional, kurikulum dikembangkan dan direvisi untuk memenuhi prioritas nasional, serta pasar tenaga kerja lokal dan internasional. Indonesia sendiri merevisi kurikulum secara nasional pada tahun 1994, 2004 dan 2013; hal ini dilakukan dalam jangka waktu kira-kira setiap 10 tahun. Mengingat laju perubahan secara nasional dan internasional, ini adalah kerangka waktu yang tepat untuk revisi. 

Pada tahun 2004, para penguna kebijakan pendidikan merasakan implikasi dari kebjakan pendidikan itu, yaitu dua perubahan signifikan pada kurikulum Indonesia yang sejalan dengan praktik terbaik di kalangan internasional. Pertama adalah perubahan dari kurikulum berbasis konten ke kurikulum berbasis kompetensi, yang menandakan perubahan besar juga bagi guru. Dalam penelitian yang terkait, Suharto (2012) menyatakan bahwa siswa tidak lagi cukup baik untuk membuat dan menghafal konten pembelajaran, melainkan siswa sekarang diharapkan untuk menunjukkan kompetensi mereka untuk membuat sesuatu dengan pengetahuan konten (content knowledge) dan mereka diharapkan untuk menunjukkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka dalam pelaksanaan tugas disekolah. Hal ini pada akhirnya berimplikasi langsung kepada guru untuk lebih meningkatkan konten pembelajaran mereka. Mereka diminta untuk mengubah metode pengajaran mereka dari instruksi langsung yang mendukung pembelajaran hafalan menjadi guru yang mendukung dan memfasilitasi pemecahan masalah dan pembelajaran aktif siswa.

Contoh implikasi dari kebijakan pendidikan diatas hanyalah salah satu contoh dari banyaknya implikasi kebijakan pendidikan yang secara langsung berpengaruh pada implementasi kebijakan pendidikan itu sendiri. Musfah (2016) dalam bukunya “Analisis Kebijakan Pendidikan” mengungkapkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kebijakan pendidikan membutuhkan sumber daya yang memadai di semua tingkat administrasi, dan dalam konteks karakter desentralisasi administrasi publik Indonesia, terutama di tingkat dasar. Untuk tujuan pemerataan dan efisiensi, ada kebutuhan nyata untuk transparansi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat dasar berdasarkan prinsip yang dinyatakan dengan jelas dan bukti yang terdokumentasi. Ada juga kebutuhan khusus untuk manajemen data yang lebih kuat, analisis dan pelaporan, dan anggaran profesional manajemen, termasuk alokasi sumber daya.

Dalam bukunya, Rusdiana (2015) menuliskan bahwa menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS), disebutkan bahwa ada tiga tantangan besar dalam bidang pendidikan di Indonesia, yaitu (1) mempertahankan hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai; (2) menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten yang mampu bersaing di pasar tenaga kerja global; dan (3) sejalan dengan berlakunya otonomi daerah, sistem pendidikan nasional dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagaman, memperhatikan kebutuhan daerah dan peserta didik, dan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Monday, January 3, 2022

Makalah Syntactic Structure

Image by https://www.thoughtco.com/

I. INTRODUCTION

A. Background

Language learner must acquire some formidable skills. Including the ability to produce and comprehend content of the sentences of the language, a sensitivity to the often very different cultural and pragmatic assumptions of speaker of the language, and the ability to recognize the ways in which propositional content of the target language is packaged grammatically to indicate the information functions of the various constituents.

English uses grammatical form to package information in such a way as to make clear information status as past or present information. Learners of English therefore need to be aware of the signal given by the grammatical form.

Makalah Filsafat Bahasa

Image by https://www.uwinnipeg.ca/philosophy/

BAB I
PENDAHULUAN

Hubungan antara bahasa dengan masalah-masalah filsafat telah lama menjadi perhatian, bahkan hal ini telah berlangsung sejak zaman yunani. Ketika para filsuf mengetahui bahwa berbagai macam persoalan filsafat dapat dijelaskan dengan suatu analisis bahasa, akhirnya suatu perubahan penting terjadi.
Para ahli filsafat sependapat bahwa hubungan antara filsafat dan bahasa sangatlah erat bahkan tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah menganalisis konsep-konsep melalui bahasa.

A.Pengertian Filsafat Bahasa
Menurut Devitt (1987), bahwa filsafat bahasa termasuk bidang yang kompleks dan sulit ditentukan lingkup pengertiannya. Namun demikian berdasarkan pengamatan terhadap perkembangan sejarah filsafat bahasa dapat dikelompokkan menjadi dua macam pengertian yaitu; Pertama, perhatian filsuf terhadap bahasa dalam memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep dalam filsafat. Kedua; filsafat bahasa sebagaimana bidang-bidang filsafat yang lain seperti filsafat hukum, filsafat manusia, filsafat alam,filsafat social dan bidang-bidang filsafat lainnya yang membahas, menganalisis, dan mancari hakikat dari objek material filsafat tersebut.

Makalah Bimbingan Belajar

Picture by https://www.naceweb.org/

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga pendidikan pada umumnya dan sekolah-sekolah pada khususnya merupakan tumpuan harapan para orang tua, siswa, dan warga masyarakat guna memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan sifat-sifat kepribadian utama sebagai sarana pengembangan karier, peningkatan status sosial dan bekal hidup lainnya di dunia kini dan di akhirat nanti.

Sesungguhnya di sekolah telah mencoba mengkombinasikan aspirasi dan pandangan-pandangan masyarakat tersebut kedalam tujuan-tujuan instruksionalnya. Selanjutnya secara operasional, diterjemahkan ke dalam tujuan-tujuan kurikuler dan instruksional. Pada akhirnya, semua aspirasi itu terletak di bahu dan tangan guru karna merekalah yang diberi tugas, wewnang, dan tanggung jawab pelaksanaan operasional pendidikan dan pengajaran tersebut.

Meskipun para guru melancarkan segala kompetensinya (antara lain menguasai bahan, memahami sasaran didik mengelola program, menggunakan strategi dan metode, mengelola kelas serta kegitan belajar mengajar dengan menggunakan alat bantunya), namun dari bebrapa sumber informasi dapat diketahui bahwa jumlah atau presentase siswa yang tergolong harus mengulang atau putus sekolah (terutama untuk tingkat sekolah dan pendidikan tinggi) ternyata cukup tinggi. Meskipun tidak seluruhnya putusan bersumber pada kelemahan segi akademis (Bruner dalam Abin: 1974) karna faktor sosial ekonomis dan antropologis.