![]() |
| Ilustrasi dosen sedang galau dalam langkah strategis publikasi |
Publikasi Itu Penting, Tapi Jangan Asal Pilih Jurnal
Bagi seorang dosen, publikasi ilmiah sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akademik. Mulai dari kewajiban Tridharma, pengembangan karier, hingga pengajuan jabatan akademik, hampir semuanya memiliki hubungan dengan rekam jejak publikasi. Namun, ketika berbicara tentang jurnal nasional dan jurnal internasional, masih banyak dosen yang langsung menganggap keduanya sebagai dua kelas yang berbeda. Jurnal nasional sering dipersepsikan sebagai tempat belajar publikasi, sementara jurnal internasional dianggap sebagai tujuan akhir seorang akademisi. But is it really that simple?
Kalau kita perhatikan, pembicaraan tentang jurnal sering kali lebih ramai membahas indeksasi, peringkat, dan biaya publikasi daripada substansi penelitian itu sendiri. Ada yang begitu bangga ketika artikelnya diterima di jurnal internasional, tetapi ada pula yang merasa kurang percaya diri karena publikasinya masih berada di jurnal nasional. Padahal, kualitas karya ilmiah tidak bisa dinilai hanya dari lokasi penerbit atau bahasa yang digunakan dalam artikelnya. Jurnal nasional yang dikelola secara profesional dapat memiliki standar ilmiah yang sangat baik, sementara jurnal yang mengaku internasional belum tentu memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan. The real question is not where you publish, but why and how you publish.
Untuk memahami persoalan ini, saya tertarik melihat lima aspek yang sering digunakan untuk membedakan jurnal nasional dan jurnal internasional, yaitu bahasa, cakupan penelitian, indeksasi, tim editorial dan reviewer, serta standar mutu. Kelima aspek tersebut memang dapat memberikan gambaran awal tentang karakteristik suatu jurnal, meskipun tentu tidak bisa dijadikan ukuran mutlak. Dalam praktiknya, ada banyak jurnal nasional yang memiliki pembaca internasional dan tidak sedikit jurnal internasional yang menerbitkan penelitian dengan fokus lokal. Karena itu, menurut saya, dosen perlu memahami perbedaan tersebut secara lebih kritis sebelum menentukan strategi publikasinya. Let's look beyond the labels and understand what really matters.
1. Bahasa: Apakah Menulis dalam Bahasa Inggris Otomatis Lebih Ilmiah?
Salah satu perbedaan yang paling mudah dikenali antara jurnal nasional dan internasional adalah bahasa yang digunakan dalam artikelnya. Jurnal nasional di Indonesia banyak menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan jurnal internasional umumnya menggunakan bahasa Inggris atau bahasa lain yang dapat menjangkau komunitas ilmiah lintas negara. Namun, penggunaan bahasa Inggris tidak otomatis menjadikan sebuah jurnal berstatus internasional, sebagaimana penggunaan bahasa Indonesia tidak berarti suatu penelitian memiliki kualitas lebih rendah. Bahasa pada dasarnya merupakan sarana komunikasi ilmiah yang membantu hasil penelitian dipahami oleh kelompok pembaca yang dituju. English is a communication tool, not an automatic indicator of scientific quality.
Bagi dosen pemula, tantangan menulis artikel dalam bahasa Inggris terkadang menjadi hambatan tersendiri untuk mencoba publikasi internasional. Banyak yang sebenarnya mempunyai hasil penelitian menarik, tetapi merasa kurang percaya diri ketika harus menyusunnya dalam struktur bahasa akademik yang baik. Padahal, keterampilan academic writing dapat dikembangkan melalui latihan, membaca artikel berkualitas, mengikuti pelatihan, dan memanfaatkan bantuan penyuntingan bahasa secara bertanggung jawab. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa argumentasi penelitian disampaikan secara jelas, logis, dan didukung oleh data yang valid. Jangan sampai terlalu sibuk memperindah bahasa, tetapi justru melupakan kekuatan metodologi dan kontribusi ilmiah dari penelitian yang dilakukan.
2. Cakupan Penelitian: Topik Lokal Bisa Punya Dampak Global
Jurnal nasional umumnya banyak menerbitkan penelitian yang berkaitan dengan persoalan lokal, regional, atau kebutuhan pembangunan nasional. Sementara itu, jurnal internasional cenderung mencari artikel yang memiliki relevansi lebih luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan komunitas akademik lintas negara. Namun, bukan berarti penelitian tentang sekolah di daerah terpencil, masyarakat pesisir, pendidikan vokasi, atau persoalan lokal lainnya tidak memiliki peluang untuk dipublikasikan secara internasional. Justru, fenomena lokal dapat menghasilkan kontribusi ilmiah yang penting apabila dikaitkan dengan teori, kesenjangan penelitian, dan diskusi akademik yang lebih luas. Local research can create global knowledge.
Misalnya, penelitian tentang penggunaan teknologi pembelajaran di sebuah perguruan tinggi daerah mungkin awalnya terlihat sangat spesifik dan terbatas. Akan tetapi, apabila penelitian tersebut mampu menjelaskan tantangan transformasi digital, kesenjangan akses teknologi, atau efektivitas pendekatan pembelajaran tertentu, hasilnya dapat menjadi pembelajaran bagi institusi di negara lain. Di sinilah kemampuan peneliti membangun argumentasi akademik menjadi sangat penting, terutama dalam menjelaskan research gap, kebaruan, dan kontribusi teoritis maupun praktis. Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah penelitian dilakukan di tingkat lokal atau internasional, melainkan sejauh mana temuan tersebut memberikan pengetahuan baru yang relevan bagi pembaca. Think globally, even when your research begins locally.
3. Indeksasi: SINTA, Scopus, dan Web of Science Bukan Sekadar Label
Ketika membicarakan publikasi ilmiah, istilah SINTA, Scopus, dan Web of Science hampir selalu muncul dalam percakapan para dosen. Di Indonesia, SINTA menjadi salah satu sistem yang digunakan untuk menampilkan informasi dan pemeringkatan jurnal nasional terakreditasi, dengan proses akreditasi yang berkaitan dengan ARJUNA. Sementara itu, Scopus dan Web of Science merupakan basis data pengindeks ilmiah internasional yang memiliki mekanisme seleksi dan cakupan masing-masing. Namun, perlu dipahami bahwa indeksasi bukan sekadar logo yang dipasang pada halaman jurnal, melainkan berkaitan dengan proses evaluasi dan keterlacakan publikasi ilmiah. Indexing matters, but understanding what it means matters even more.
Menariknya, masih ada anggapan bahwa semua jurnal internasional pasti terindeks Scopus, atau semua jurnal nasional hanya bisa ditemukan melalui SINTA. Kenyataannya, jurnal internasional tidak selalu terindeks Scopus atau Web of Science, dan sebagian jurnal yang diterbitkan di Indonesia juga dapat memiliki indeksasi internasional. Selain itu, DOAJ merupakan direktori jurnal akses terbuka yang memenuhi kriteria tertentu, sedangkan EBSCO menyediakan berbagai layanan basis data dan pengindeksan dengan cakupan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dosen sebaiknya memeriksa status jurnal melalui sumber resmi, bukan hanya mempercayai klaim indeksasi yang ditampilkan pada situs penerbit. Always verify before you submit, karena kesalahan memilih jurnal dapat merugikan waktu, biaya, dan rekam jejak akademik.


