Kalau ngomongin skripsi, hampir semua mahasiswa pasti punya cerita traumanya masing-masing. Ada yang stres karena revisi, ada yang bingung cari ide, dan ada juga yang cuma buka laptop lalu menatap layar kosong selama dua jam. Di tengah situasi seperti itu, kehadiran AI terasa seperti “penolong dadakan” yang datang di waktu yang tepat. Tools seperti ChatGPT, Grammarly, sampai QuillBot sekarang mulai jadi teman sehari-hari mahasiswa. Bahkan, buat sebagian orang, AI sudah seperti partner nugas yang selalu siap 24 jam. Tapi pertanyaannya, apakah AI benar-benar membantu mahasiswa jadi lebih pintar, atau malah bikin mereka terlalu bergantung?
Artikel ini membahas bagaimana mahasiswa teknik sipil memandang penggunaan AI dalam penulisan skripsi, khususnya saat menyusun proposal . Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan bantuan kuesioner skala Likert. Fokusnya bukan cuma soal “apakah AI dipakai,” tapi juga bagaimana mahasiswa melihat manfaat, kemudahan, sampai risiko penggunaannya. Hasilnya ternyata cukup menarik. AI memang dianggap sangat membantu, tapi di saat yang sama juga mulai menimbulkan kekhawatiran baru.
Hal pertama yang paling terlihat adalah bagaimana AI dipakai untuk mencari ide. Banyak mahasiswa merasa kesulitan memulai tulisan akademik karena bingung menentukan arah pembahasan. AI akhirnya jadi alat brainstorming instan yang bisa membantu mereka menemukan topik, menyusun kerangka, bahkan membuat draft awal. Dalam penelitian ini, sekitar 85% mahasiswa mengaku menggunakan AI untuk menghasilkan ide. Angka itu menunjukkan bahwa AI sudah benar-benar masuk ke proses akademik sehari-hari mahasiswa.
Selain mencari ide, AI juga banyak dipakai untuk memperbaiki grammar dan parafrase. Buat mahasiswa teknik sipil yang fokus utamanya bukan bahasa Inggris, fitur seperti ini jelas terasa sangat membantu. Mereka tidak perlu lagi terlalu lama memikirkan struktur kalimat atau pemilihan kata. Tinggal copy-paste, lalu AI memberikan versi yang dianggap lebih “rapi” dan akademik. Sekitar 80% mahasiswa menggunakan AI untuk grammar correction, sementara 78% menggunakannya untuk parafrase.
Di satu sisi, ini sebenarnya bukan hal yang buruk. Menulis akademik memang sulit, apalagi dalam bahasa asing. Banyak mahasiswa punya ide bagus, tapi kesulitan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang formal dan sistematis. AI hadir sebagai alat bantu yang membuat proses itu terasa lebih ringan. Menurut Baltà‐Salvador et al. (2025), AI dapat membantu meningkatkan efisiensi dan kualitas penulisan akademik mahasiswa. Jadi wajar kalau banyak mahasiswa mulai nyaman menggunakannya.
Yang menarik, mahasiswa ternyata punya persepsi yang cukup positif terhadap AI. Nilai rata-rata tertinggi dalam penelitian ini muncul pada aspek perceived usefulness atau manfaat penggunaan AI. Artinya, mayoritas mahasiswa benar-benar merasa AI membantu pekerjaan mereka. Mereka merasa lebih cepat menyelesaikan tugas, lebih mudah mengembangkan ide, dan lebih percaya diri saat menulis. AI dianggap bukan sekadar alat tambahan, tapi sudah menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri. Ini menunjukkan perubahan besar dalam cara mahasiswa belajar di era digital.
Selain dianggap bermanfaat, AI juga dinilai mudah digunakan. Mayoritas mahasiswa tidak merasa kesulitan memahami cara kerja tools AI. Bahkan banyak yang merasa penggunaannya jauh lebih simpel dibanding mencari referensi manual atau memperbaiki tulisan sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian George & Wooden (2023) yang menyebutkan bahwa AI semakin populer karena menawarkan kemudahan dan aksesibilitas tinggi bagi mahasiswa. Semakin mudah sebuah teknologi digunakan, semakin cepat juga teknologi itu diadopsi.
Kemudahan inilah yang kemudian membuat AI terasa “nagih.” Mahasiswa jadi terbiasa meminta bantuan AI untuk hampir semua proses penulisan. Mulai dari membuka paragraf, membuat kalimat akademik, sampai memperbaiki kesimpulan. Lama-lama muncul pertanyaan penting: apakah mahasiswa masih benar-benar belajar menulis? Atau mereka cuma belajar bagaimana memberikan prompt yang bagus ke AI? Di titik ini, kekhawatiran mulai muncul.
Salah satu isu terbesar dalam penggunaan AI adalah soal ketergantungan. Dalam penelitian ini, skor dependency atau ketergantungan berada di angka yang cukup tinggi. Artinya, mahasiswa sadar bahwa mereka mulai terlalu sering bergantung pada AI saat menulis. Ini cukup berbahaya kalau dibiarkan terus-menerus. Karena pada akhirnya, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyusun argumen tetap harus berasal dari manusia, bukan mesin.
Masalah lainnya adalah soal etika akademik. Banyak mahasiswa mulai menggunakan AI tanpa benar-benar memahami batasannya. Ada yang menggunakan AI hanya untuk bantuan tata bahasa, tapi ada juga yang mulai meminta AI membuat isi tulisan secara penuh. Di sinilah risiko plagiarisme dan manipulasi akademik mulai terlihat. Menurut Alqahtani et al. (2023), penggunaan AI tanpa kontrol dapat mengaburkan batas antara bantuan teknologi dan pelanggaran akademik. Jadi masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada bagaimana manusia menggunakannya.
Kalau dipikir-pikir, AI sebenarnya mirip kalkulator dalam dunia matematika. Kalkulator membantu menghitung lebih cepat, tapi kalau seseorang tidak memahami konsep dasarnya, hasil akhirnya tetap berbahaya. Begitu juga dengan AI dalam penulisan akademik. AI bisa membantu mempercepat proses, tapi mahasiswa tetap harus memahami isi dan logika dari tulisan mereka sendiri. Kalau tidak, mereka hanya menghasilkan teks tanpa benar-benar memahami maknanya. Dan itu jelas bukan tujuan pendidikan.
Menariknya lagi, penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa sebenarnya sadar akan risiko tersebut. Mereka tahu bahwa penggunaan AI berlebihan bisa membuat kemampuan berpikir mereka menurun. Mereka juga sadar bahwa terlalu mengandalkan AI dapat memengaruhi orisinalitas tulisan. Jadi sebenarnya mahasiswa tidak sepenuhnya “terlena.” Mereka paham bahwa AI punya sisi positif dan negatif sekaligus. Kesadaran ini menjadi poin penting dalam perkembangan literasi digital di perguruan tinggi.
Dalam konteks teknik sipil, kemampuan menulis tetap sangat penting. Banyak orang mengira mahasiswa teknik hanya berurusan dengan angka dan gambar proyek. Padahal mereka juga harus membuat laporan, proposal penelitian, hingga dokumentasi teknis yang membutuhkan kemampuan komunikasi akademik yang baik. AI memang bisa membantu menyusun tulisan lebih cepat. Tapi pemahaman teknis dan logika berpikir tetap harus datang dari mahasiswa itu sendiri. Teknologi tidak bisa menggantikan pengalaman dan pengetahuan manusia sepenuhnya.
Penelitian ini juga memperlihatkan bagaimana pendidikan mulai berubah. Dulu mahasiswa harus mencari semuanya sendiri secara manual. Sekarang, teknologi membuat hampir semua hal bisa dilakukan lebih cepat. Ini membuat proses belajar jadi lebih fleksibel dan efisien. Namun di saat yang sama, tantangan baru juga muncul. Kampus dan dosen harus mulai memikirkan bagaimana cara mengintegrasikan AI secara sehat dalam proses pembelajaran.
Larangan total terhadap AI mungkin bukan solusi terbaik. Faktanya, teknologi ini sudah terlalu dekat dengan kehidupan mahasiswa. Bahkan di dunia kerja nanti, AI kemungkinan besar akan menjadi bagian dari aktivitas profesional sehari-hari. Jadi daripada melarang, mungkin lebih baik mengajarkan cara menggunakan AI secara bijak. Mahasiswa perlu dibimbing agar AI menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir.
Yang juga menarik adalah bagaimana AI mengubah cara mahasiswa melihat proses menulis. Menulis yang dulu terasa menakutkan sekarang jadi lebih approachable. Mahasiswa jadi lebih berani mulai menulis karena tahu ada “asisten digital” yang siap membantu. Dalam beberapa kasus, ini bisa meningkatkan motivasi belajar. Menurut Utami & Winarni (2023), AI mampu meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa dalam proses akademik. Dan kadang, rasa percaya diri memang menjadi langkah pertama untuk berkembang.
Meski begitu, AI tetap punya keterbatasan. AI tidak benar-benar “mengerti” konteks seperti manusia. Kadang hasil tulisannya terdengar terlalu umum, terlalu formal, atau bahkan tidak sesuai dengan maksud asli penulis. Kalau mahasiswa langsung menerima semua hasil AI tanpa evaluasi, kualitas akademik bisa menurun. Karena itu, kemampuan editing dan critical thinking tetap menjadi hal yang sangat penting.
Penelitian ini secara tidak langsung memberi pesan bahwa masa depan pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh AI. Cepat atau lambat, mahasiswa dan dosen harus beradaptasi dengan perubahan ini. Pertanyaannya bukan lagi “boleh atau tidak menggunakan AI,” tapi bagaimana menggunakannya dengan bertanggung jawab. Dunia akademik perlu membuat pedoman yang jelas agar penggunaan AI tetap etis dan mendukung proses belajar. Karena tanpa aturan yang tepat, manfaat besar AI bisa berubah menjadi masalah baru.
Sebagai kesimpulan, AI bukan musuh dalam pendidikan. AI hanyalah alat. Sama seperti internet, kalkulator, atau software desain, semuanya tergantung pada siapa yang menggunakannya. Kalau digunakan dengan bijak, AI bisa membantu mahasiswa berkembang lebih cepat. Tapi kalau digunakan secara malas dan tanpa kontrol, AI justru bisa membuat kemampuan berpikir manusia melemah perlahan.
Jadi, mungkin masalah utamanya bukan pada teknologinya. Masalah sebenarnya adalah apakah kita masih mau berpikir sendiri ketika semuanya sudah bisa dibantu mesin. Karena sehebat apa pun AI berkembang, kemampuan berpikir kritis, memahami masalah, dan menyusun ide tetap menjadi hal yang paling manusiawi. Dan itu adalah sesuatu yang tidak boleh hilang dari dunia pendidikan.
Referensi:
Alqahtani, T., Badreldin, H. A., Alrashed, M., Alshaya, A. I., Alghamdi, S. S., Saleh, K. B., ... & Albekairy, A. M. (2023). The emergent role of artificial intelligence, natural learning processing, and large language models in higher education and research. Research in Social and Administrative Pharmacy, 19(8), 1236–1242. https://doi.org/10.1016/j.sapharm.2023.05.016
Baltà‐Salvador, R., Olmedo‐Torre, N., Peña, M., & Renta‐Davids, A. I. (2025). Artificial intelligence in higher education: Opportunities and challenges for academic writing. Education Sciences, 15(2), 201–214.
George, A. S., & Wooden, O. (2023). Managing the strategic transformation of higher education through artificial intelligence. Administrative Sciences, 13(9), 196. https://doi.org/10.3390/admsci13090196
Utami, A. R., & Winarni, R. (2023). The impact of AI-assisted learning on students’ academic writing confidence. Journal of Language and Education, 9(3), 55–67.
