Sunday, May 17, 2026

AI Bantu Mahasiswa Nulis Skripsi, Tapi Jangan Sampai Otak Ikut Pensiun!

Kalau ngomongin skripsi, hampir semua mahasiswa pasti punya cerita traumanya masing-masing. Ada yang stres karena revisi, ada yang bingung cari ide, dan ada juga yang cuma buka laptop lalu menatap layar kosong selama dua jam. Di tengah situasi seperti itu, kehadiran AI terasa seperti “penolong dadakan” yang datang di waktu yang tepat. Tools seperti ChatGPT, Grammarly, sampai QuillBot sekarang mulai jadi teman sehari-hari mahasiswa. Bahkan, buat sebagian orang, AI sudah seperti partner nugas yang selalu siap 24 jam. Tapi pertanyaannya, apakah AI benar-benar membantu mahasiswa jadi lebih pintar, atau malah bikin mereka terlalu bergantung?

Artikel ini membahas bagaimana mahasiswa teknik sipil memandang penggunaan AI dalam penulisan skripsi, khususnya saat menyusun proposal . Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan bantuan kuesioner skala Likert. Fokusnya bukan cuma soal “apakah AI dipakai,” tapi juga bagaimana mahasiswa melihat manfaat, kemudahan, sampai risiko penggunaannya. Hasilnya ternyata cukup menarik. AI memang dianggap sangat membantu, tapi di saat yang sama juga mulai menimbulkan kekhawatiran baru.

Hal pertama yang paling terlihat adalah bagaimana AI dipakai untuk mencari ide. Banyak mahasiswa merasa kesulitan memulai tulisan akademik karena bingung menentukan arah pembahasan. AI akhirnya jadi alat brainstorming instan yang bisa membantu mereka menemukan topik, menyusun kerangka, bahkan membuat draft awal. Dalam penelitian ini, sekitar 85% mahasiswa mengaku menggunakan AI untuk menghasilkan ide. Angka itu menunjukkan bahwa AI sudah benar-benar masuk ke proses akademik sehari-hari mahasiswa.

Selain mencari ide, AI juga banyak dipakai untuk memperbaiki grammar dan parafrase. Buat mahasiswa teknik sipil yang fokus utamanya bukan bahasa Inggris, fitur seperti ini jelas terasa sangat membantu. Mereka tidak perlu lagi terlalu lama memikirkan struktur kalimat atau pemilihan kata. Tinggal copy-paste, lalu AI memberikan versi yang dianggap lebih “rapi” dan akademik. Sekitar 80% mahasiswa menggunakan AI untuk grammar correction, sementara 78% menggunakannya untuk parafrase.

Di satu sisi, ini sebenarnya bukan hal yang buruk. Menulis akademik memang sulit, apalagi dalam bahasa asing. Banyak mahasiswa punya ide bagus, tapi kesulitan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang formal dan sistematis. AI hadir sebagai alat bantu yang membuat proses itu terasa lebih ringan. Menurut Baltà‐Salvador et al. (2025), AI dapat membantu meningkatkan efisiensi dan kualitas penulisan akademik mahasiswa. Jadi wajar kalau banyak mahasiswa mulai nyaman menggunakannya.

Yang menarik, mahasiswa ternyata punya persepsi yang cukup positif terhadap AI. Nilai rata-rata tertinggi dalam penelitian ini muncul pada aspek perceived usefulness atau manfaat penggunaan AI. Artinya, mayoritas mahasiswa benar-benar merasa AI membantu pekerjaan mereka. Mereka merasa lebih cepat menyelesaikan tugas, lebih mudah mengembangkan ide, dan lebih percaya diri saat menulis. AI dianggap bukan sekadar alat tambahan, tapi sudah menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri. Ini menunjukkan perubahan besar dalam cara mahasiswa belajar di era digital.

Selain dianggap bermanfaat, AI juga dinilai mudah digunakan. Mayoritas mahasiswa tidak merasa kesulitan memahami cara kerja tools AI. Bahkan banyak yang merasa penggunaannya jauh lebih simpel dibanding mencari referensi manual atau memperbaiki tulisan sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian George & Wooden (2023) yang menyebutkan bahwa AI semakin populer karena menawarkan kemudahan dan aksesibilitas tinggi bagi mahasiswa. Semakin mudah sebuah teknologi digunakan, semakin cepat juga teknologi itu diadopsi.

Kemudahan inilah yang kemudian membuat AI terasa “nagih.” Mahasiswa jadi terbiasa meminta bantuan AI untuk hampir semua proses penulisan. Mulai dari membuka paragraf, membuat kalimat akademik, sampai memperbaiki kesimpulan. Lama-lama muncul pertanyaan penting: apakah mahasiswa masih benar-benar belajar menulis? Atau mereka cuma belajar bagaimana memberikan prompt yang bagus ke AI? Di titik ini, kekhawatiran mulai muncul.

Salah satu isu terbesar dalam penggunaan AI adalah soal ketergantungan. Dalam penelitian ini, skor dependency atau ketergantungan berada di angka yang cukup tinggi. Artinya, mahasiswa sadar bahwa mereka mulai terlalu sering bergantung pada AI saat menulis. Ini cukup berbahaya kalau dibiarkan terus-menerus. Karena pada akhirnya, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyusun argumen tetap harus berasal dari manusia, bukan mesin.

Masalah lainnya adalah soal etika akademik. Banyak mahasiswa mulai menggunakan AI tanpa benar-benar memahami batasannya. Ada yang menggunakan AI hanya untuk bantuan tata bahasa, tapi ada juga yang mulai meminta AI membuat isi tulisan secara penuh. Di sinilah risiko plagiarisme dan manipulasi akademik mulai terlihat. Menurut Alqahtani et al. (2023), penggunaan AI tanpa kontrol dapat mengaburkan batas antara bantuan teknologi dan pelanggaran akademik. Jadi masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada bagaimana manusia menggunakannya.

Kalau dipikir-pikir, AI sebenarnya mirip kalkulator dalam dunia matematika. Kalkulator membantu menghitung lebih cepat, tapi kalau seseorang tidak memahami konsep dasarnya, hasil akhirnya tetap berbahaya. Begitu juga dengan AI dalam penulisan akademik. AI bisa membantu mempercepat proses, tapi mahasiswa tetap harus memahami isi dan logika dari tulisan mereka sendiri. Kalau tidak, mereka hanya menghasilkan teks tanpa benar-benar memahami maknanya. Dan itu jelas bukan tujuan pendidikan.

Menariknya lagi, penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa sebenarnya sadar akan risiko tersebut. Mereka tahu bahwa penggunaan AI berlebihan bisa membuat kemampuan berpikir mereka menurun. Mereka juga sadar bahwa terlalu mengandalkan AI dapat memengaruhi orisinalitas tulisan. Jadi sebenarnya mahasiswa tidak sepenuhnya “terlena.” Mereka paham bahwa AI punya sisi positif dan negatif sekaligus. Kesadaran ini menjadi poin penting dalam perkembangan literasi digital di perguruan tinggi.

Dalam konteks teknik sipil, kemampuan menulis tetap sangat penting. Banyak orang mengira mahasiswa teknik hanya berurusan dengan angka dan gambar proyek. Padahal mereka juga harus membuat laporan, proposal penelitian, hingga dokumentasi teknis yang membutuhkan kemampuan komunikasi akademik yang baik. AI memang bisa membantu menyusun tulisan lebih cepat. Tapi pemahaman teknis dan logika berpikir tetap harus datang dari mahasiswa itu sendiri. Teknologi tidak bisa menggantikan pengalaman dan pengetahuan manusia sepenuhnya.

Penelitian ini juga memperlihatkan bagaimana pendidikan mulai berubah. Dulu mahasiswa harus mencari semuanya sendiri secara manual. Sekarang, teknologi membuat hampir semua hal bisa dilakukan lebih cepat. Ini membuat proses belajar jadi lebih fleksibel dan efisien. Namun di saat yang sama, tantangan baru juga muncul. Kampus dan dosen harus mulai memikirkan bagaimana cara mengintegrasikan AI secara sehat dalam proses pembelajaran.

Larangan total terhadap AI mungkin bukan solusi terbaik. Faktanya, teknologi ini sudah terlalu dekat dengan kehidupan mahasiswa. Bahkan di dunia kerja nanti, AI kemungkinan besar akan menjadi bagian dari aktivitas profesional sehari-hari. Jadi daripada melarang, mungkin lebih baik mengajarkan cara menggunakan AI secara bijak. Mahasiswa perlu dibimbing agar AI menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir.

Yang juga menarik adalah bagaimana AI mengubah cara mahasiswa melihat proses menulis. Menulis yang dulu terasa menakutkan sekarang jadi lebih approachable. Mahasiswa jadi lebih berani mulai menulis karena tahu ada “asisten digital” yang siap membantu. Dalam beberapa kasus, ini bisa meningkatkan motivasi belajar. Menurut Utami & Winarni (2023), AI mampu meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa dalam proses akademik. Dan kadang, rasa percaya diri memang menjadi langkah pertama untuk berkembang.

Meski begitu, AI tetap punya keterbatasan. AI tidak benar-benar “mengerti” konteks seperti manusia. Kadang hasil tulisannya terdengar terlalu umum, terlalu formal, atau bahkan tidak sesuai dengan maksud asli penulis. Kalau mahasiswa langsung menerima semua hasil AI tanpa evaluasi, kualitas akademik bisa menurun. Karena itu, kemampuan editing dan critical thinking tetap menjadi hal yang sangat penting.

Penelitian ini secara tidak langsung memberi pesan bahwa masa depan pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh AI. Cepat atau lambat, mahasiswa dan dosen harus beradaptasi dengan perubahan ini. Pertanyaannya bukan lagi “boleh atau tidak menggunakan AI,” tapi bagaimana menggunakannya dengan bertanggung jawab. Dunia akademik perlu membuat pedoman yang jelas agar penggunaan AI tetap etis dan mendukung proses belajar. Karena tanpa aturan yang tepat, manfaat besar AI bisa berubah menjadi masalah baru.

Sebagai kesimpulan, AI bukan musuh dalam pendidikan. AI hanyalah alat. Sama seperti internet, kalkulator, atau software desain, semuanya tergantung pada siapa yang menggunakannya. Kalau digunakan dengan bijak, AI bisa membantu mahasiswa berkembang lebih cepat. Tapi kalau digunakan secara malas dan tanpa kontrol, AI justru bisa membuat kemampuan berpikir manusia melemah perlahan.

Jadi, mungkin masalah utamanya bukan pada teknologinya. Masalah sebenarnya adalah apakah kita masih mau berpikir sendiri ketika semuanya sudah bisa dibantu mesin. Karena sehebat apa pun AI berkembang, kemampuan berpikir kritis, memahami masalah, dan menyusun ide tetap menjadi hal yang paling manusiawi. Dan itu adalah sesuatu yang tidak boleh hilang dari dunia pendidikan.

Referensi:

Alqahtani, T., Badreldin, H. A., Alrashed, M., Alshaya, A. I., Alghamdi, S. S., Saleh, K. B., ... & Albekairy, A. M. (2023). The emergent role of artificial intelligence, natural learning processing, and large language models in higher education and research. Research in Social and Administrative Pharmacy, 19(8), 1236–1242. https://doi.org/10.1016/j.sapharm.2023.05.016

Baltà‐Salvador, R., Olmedo‐Torre, N., Peña, M., & Renta‐Davids, A. I. (2025). Artificial intelligence in higher education: Opportunities and challenges for academic writing. Education Sciences, 15(2), 201–214.

George, A. S., & Wooden, O. (2023). Managing the strategic transformation of higher education through artificial intelligence. Administrative Sciences, 13(9), 196. https://doi.org/10.3390/admsci13090196

Utami, A. R., & Winarni, R. (2023). The impact of AI-assisted learning on students’ academic writing confidence. Journal of Language and Education, 9(3), 55–67.

Thursday, May 7, 2026

Maybe AI Isn’t Ruining Student Writing - Maybe It’s Finally Helping Them Learn

For years, writing has been one of the biggest struggles for students learning English as a foreign language. It’s not just about grammar mistakes or awkward vocabulary choices. Writing requires students to organize ideas, connect arguments, and express thoughts clearly in another language. For many students, especially those outside language-related majors, this feels exhausting. Civil engineering students, for example, often see writing as something distant from their technical world. But in reality, academic and professional success today depends heavily on communication skills.

One of the hardest parts of academic writing is paraphrasing. Sounds simple in theory, but in practice, many students struggle to rewrite ideas without copying directly from the source. This usually happens because they lack vocabulary, confidence, or understanding of sentence structure. As a result, students often end up unintentionally plagiarizing or producing weak academic writing. Studies have shown that paraphrasing is closely tied to comprehension and critical thinking skills (Ayton et al., 2022). So when students fail at paraphrasing, the problem is often deeper than just language ability.

The challenge becomes even bigger in English for Specific Purposes (ESP) classes. Civil engineering students are not just writing random essays about hobbies or travel. They are expected to produce technical reports, explain project designs, and discuss engineering concepts professionally. That means their writing needs to be accurate, formal, and discipline-specific. General English classes rarely prepare students for this kind of communication. And honestly, many students feel lost trying to bridge the gap between technical knowledge and academic English.

This is why AI tools have suddenly become part of the conversation in education. Over the last few years, applications powered by artificial intelligence have started changing the way students approach writing. Instead of waiting for teacher feedback days later, students can now receive instant suggestions in seconds. AI tools can recommend better vocabulary, fix grammar mistakes, and even restructure sentences automatically. Naturally, this is not only creates excitement but also controversy. Some people think AI will make students lazy, while others believe it could completely transform learning.

One tool that has gained huge popularity among students is QuillBot. If you’ve spent any time around university students recently, chances are you’ve heard someone mention it. QuillBot is basically an AI-powered paraphrasing tool that rewrites sentences in different styles and structures. Students can paste a sentence, click a button, and instantly receive alternative versions. It sounds almost too easy, which is exactly why educators have mixed feelings about it. But the bigger question is not whether students use AI - it’s how they use it.

The article you wrote explored exactly this issue by focusing on civil engineering students in an ESP context . The study used a quasi-experimental design involving two groups of students. One group learned writing with the help of QuillBot, while the other relied on traditional instruction without AI assistance. Both groups completed pre-tests and post-tests measuring paraphrasing, grammar, vocabulary, and coherence. The results turned out to be surprisingly clear. Students who used QuillBot improved far more significantly than those who didn’t.

The numbers alone tell an interesting story. The experimental group’s average score jumped from 63.69 to 79.68 after using QuillBot-assisted learning. Meanwhile, the control group only improved slightly, from 62.98 to 67.69. That difference is difficult to ignore. In educational research, improvements that large usually signal something meaningful happening in the learning process. It suggests that AI tools can actually support learning instead of simply doing the work for students.

What’s especially interesting is where the improvement happened. Vocabulary development showed one of the strongest gains. Students became more comfortable using varied expressions and alternative wording in their writing. This makes sense because QuillBot constantly exposes users to multiple sentence possibilities. According to Amara et al. (2025), this kind of interaction can help learners expand their lexical repertoire naturally. In other words, students aren’t just copying. They’re being exposed to new language patterns repeatedly.

Grammar also improved noticeably. Many students struggle because they know what they want to say, but they don’t know how to structure it correctly in English. QuillBot acts almost like a silent writing tutor by showing grammatically improved alternatives. Over time, students begin recognizing correct patterns and internalizing them. This reflects what second-language researchers often call the “noticing effect,” where learners improve by repeatedly seeing accurate language input (Dai & Liu, 2024). Sometimes seeing the correction instantly is more powerful than reading long explanations in a textbook.

Another major improvement appeared in coherence and organization. Before the treatment, many students wrote paragraphs that felt disconnected or difficult to follow. After using QuillBot, their writing became more structured and easier to understand. The tool indirectly helped students organize ideas more logically. Instead of jumping randomly between thoughts, students learned how smoother sentence flow works. That’s incredibly important in technical writing, where clarity matters as much as content itself.

What makes this even more relevant is the context of civil engineering education. Engineering students are often overloaded with technical courses, calculations, and project work. Writing classes can easily feel secondary or unimportant. But modern engineering careers require communication constantly—reports, proposals, emails, presentations, and international collaboration. Hyland (2019) argues that ESP instruction should focus on real communication demands in professional contexts. So improving writing skills isn’t just an academic exercise anymore; it’s career preparation.

Still, we can’t pretend AI tools are perfect. One of the biggest concerns is dependency. If students rely too much on QuillBot, they may stop thinking critically about language choices. Instead of learning how to paraphrase independently, they might simply press a button and accept whatever appears on the screen. That creates a dangerous habit. Technology should support thinking, not replace it entirely.

There’s also the issue of academic integrity. Critics argue that AI paraphrasing tools blur the line between assistance and dishonesty. If students rewrite texts using AI without truly understanding the content, are they really learning? This concern is valid. Writing is supposed to reflect comprehension, not just linguistic manipulation. Educators therefore need to guide students carefully so that AI becomes a learning companion rather than a shortcut around learning.

At the same time, blaming AI alone feels unfair. Students have always searched for easier ways to complete assignments. The real responsibility lies in how institutions and teachers integrate technology into education. Instead of banning tools like QuillBot outright, educators could focus on teaching students ethical and meaningful ways to use them. AI literacy might actually become one of the most important academic skills in the future. Knowing how to collaborate responsibly with technology could matter more than pretending technology doesn’t exist.

Interestingly, the findings from your article also support earlier research about AI-assisted writing. Mohammad et al. (2023) found that students became more enthusiastic about writing when using QuillBot. Syahnaz and Fithriani (2023) similarly reported positive student perceptions regarding AI-assisted paraphrasing tools. Students often feel less anxious when they have immediate support during the writing process. Confidence, after all, plays a huge role in language learning success.

But what makes your study stand out is that it goes beyond perception. Many studies only ask students whether they “like” using AI tools. Your research actually measured improvement through tests and statistical analysis . That makes the findings stronger and more practical. It shows measurable progress rather than just opinions or feelings. And honestly, that kind of evidence matters when discussing technology in education.

The bigger takeaway here is that AI probably isn’t the enemy of education people fear it is. Tools like QuillBot don’t automatically destroy creativity or critical thinking. In many cases, they can reduce frustration and make learning more accessible. Students who previously struggled to express ideas may finally feel capable of writing confidently. Of course, guidance and balance remain essential. But completely rejecting AI could mean ignoring tools that genuinely help students grow.

At the end of the day, maybe the goal of education should not be protecting old methods at all costs. Maybe the goal should be helping students communicate better, think more clearly, and learn more effectively. If AI tools can support that process responsibly, then they deserve a place in modern classrooms. The challenge now is not whether AI belongs in education. The real challenge is figuring out how to use it wisely without losing the human side of learning.

References:

Amara, R., Rahmah, L. S., & Ruswandi, R. (2025). The University EFL Students’ Perceptions of QuillBot as an AI-Based Tool for Enhancing Paraphrasing Skills and Academic Writing in English. Journal of Educational Sciences, 9(5), 4298–4307. https://doi.org/10.31258/jes.9.5.p.4298-4307

Ayton, D., Hillman, C., Hatzikiriakidis, K., Tsindos, T., Sadasivan, S., Maloney, S., & Illic, D. (2022). Why do students plagiarise? Informing higher education teaching and learning policy and practice. Studies in Higher Education, 47(9), 1921–1934. https://doi.org/10.1080/03075079.2021.1985103

Dai, K., & Liu, Q. (2024). Leveraging artificial intelligence (AI) in English as a foreign language (EFL) classes: Challenges and opportunities in the spotlight. Computers in Human Behavior, 159, 108354. https://doi.org/10.1016/j.chb.2024.108354

Hyland, K. (2019). English for specific purposes: Some influences and impacts. In Second handbook of English language teaching (pp. 337–353). Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-030-02899-2_19

Mohammad, T., Alzubi, A. A., Nazim, M., & Khan, S. I. (2023). EFL Paraphrasing Skills with QuillBot: Unveiling Students' Enthusiasm and Insights. Journal of Pedagogical Research, 7(5), 359–373. https://doi.org/10.33902/JPR.202324645

Syahnaz, M., & Fithriani, R. (2023). Utilizing artificial intelligence-based paraphrasing tool in EFL writing class. Scope: Journal of English Language Teaching, 7(2), 210–218. http://dx.doi.org/10.30998/scope.v7i2.14882